
Oleh:
Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy
IBC, TERNATE – Ulama itu menepikan kapalnya tepat dibibir Pantai Salero. Pulau mungil ini memang terlihat indah. Alamnya masih perawan. Daun kelapa melambai-lambai tertiup angin pantai. Tak jauh dari bibir pantai, kira-kira 100 meter ke depan, berdiri bukit Santosa. Bukit itu seperti sedang memeluk air sungai yang disebut ake santosa.
Jafar Sadik namanya, ulama yang datang dari tanah Byzantium, saat ini Iran, berjalan mendekati ake santosa. Ake dalam bahasa Ternate adalah air, sedangkan santosa diserap dari kata sentosa bermakna damai. Jadi, ake santosa adalah air kedamaian.
Sesampainya di ake santosa, Jafar Sadik lalu mengambil air itu dan meneguknya, melepas keringnya tenggorokan. Lelah akibat perjalanan laut sebulan penuh, Jafar membaringkan badannya di atas batu alam hitam berukuran besar. Dia sempat tertidur 20 menit, mungkin baru masuk tahap REM, dia terbangun dan melihat 7 bidadari sedang mandi di ake santosa.
Satu dari ketujuh bidadari itu terlihat sangat cantik. Naluri ke-laki-laki-annya mulai keluar. Jafar ingin memiliki satu bidadari itu, yang belakangan dikenal dengan nama Siti Nursifah. Diam-diam Jafar mencuri selendang Nursifah. Setelah bidadari-bidadari itu mandi, mereka bergegas ingin kembali ke kahyangan. Namun sayang, selendang Nursifah tidak ditemukan. Dia menangis tersedu-sedu. Seperti yang diketahui bahwa selendang adalah sayapnya para bidadari untuk terbang kembali ke kahyangan. Akhirnya Nursifah dibiarkan tinggal di ake santosa.
Nursifah bingung mau berbuat apa. Datanglah Jafar Sadik menghibur Nursifah. Mula-mula mereka saling kenal, dan akhirnya menjadi suami istri. Dari pernikahan mereka lahirlah 4 orang anak laki-laki yang cerdas. Keempat anak laki-laki inilah yang kemudian dikenal sebagai 4 sultan di tanah Maluku, yakni Sultan Ternate, Bacan, Jailolo, dan Tidore.
Itulah sepenggal mitos yang ada di tanah Maluku. Entah apakah cerita itu mengandung kebenaran atau tidak, saya tidak akan masuk kesana. Namun yang menarik dari cerita tersebut adalah ake santosa sebagai sumber titik temu kedua insan yang kemudian melahirkan peradaban gemilang di tanah Maluku.
Ake atau air adalah sumber kehidupan. Pernyataan ini meski biasa-biasa saja namun mengandung makna yang sangat dalam. Dulu Mesopotamia bisa maju peradabannya karena pengelolaan terhadap air melalui pembuatan irigasi. Mesir bisa maju karena dekat dengan sungai Nil yang dikelola dengan baik. Lembah Makkah, yang konon dikenal tandus dan gersang, kini menjadi gemilang karena ada Zam-Zam.
Air sepertinya menjadi sumber energi dalam membangun peradaban, namun belakangan terlupakan, yang akhirnya menjadi malapetaka. Ambil contoh kasus malaria, paling besar disebabkan oleh air, karena tidak dikelola dengan baik akhirnya menjadi sarang nyamuk. Kasus ini paling banyak terjadi di kota-kota besar seperti di Jakarta.
Mungkin di masa depan, kita perlu memperhatikan air ini sebagai sumber energi membangun sebuah peradaban yang besar. Menanamkan kesadaran ke khalayak masyarakat terkait pengelolaan air bersih menjadi sangat penting dan mendesak. Hal ini butuh kerjasama kolektif, seperti Hajar dan Ismail menemukan air Zam-Zam.
Hal ini kalau bisa kita maknai, adalah seperti pemerintah dan masyarakat bersama-sama dengan penuh keyakinan dapat membangun peradaban yang besar melalui air sebagai sumber energi.
Penulis adalah Penggiat literasi di Maluku Utara.
Editor : YES
from Indonesia Berita https://ift.tt/2XLktdX
via gqrds

Tidak ada komentar:
Posting Komentar